tumblr counter
Cerita Sebelum Tidur | Kepercayaan

Cerita Sebelum Tidur

Ini hanya sebuah cerita tentang apa saja untuk merangkum momen-momen terlekat di dalam kepala, yang mungkin bisa saja hilang saat bangun nanti.

sebersit harapan, cerita ini menjadi pemberat amal kebaikan di saat bangun yang sebenar-benarnya nanti.

sebelum tidur, ini ceritaku..

Kepercayaan

ajprasetyo:

‘Umar ibn Al-Khaththab sedang duduk di bawah sebatang pohon kurma. Surbannya dilepas, menampakkan kepala yang rambutnya mulai teripis di beberapa bagian. Di atas kerikil dia duduk, dengan cemeti imarat-nya tergeletak di samping tumuan lengan. Di hadapannya para pemuka sahabat bertukar pikiran dan membahas berbagai persialan. Ada anak muda yang tampak menonjol di situ. ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Berulang kali ‘Umar memintanya bebicara jika perbedaan wujud. ‘Umar hampir selalu bersetuju dengan Ibnu Abbas. Ada juga Salman Al-Farisi yang tekun menyimak. Ada juga Abu Dzar Al-Ghifari yang sesekali bicara berapi-api.

Pembicaraan mereka segera terjeda. Dua orang pemuda berwajah mirip datang dengan mengapit pria belia lain yang mereka cekal lengannya. “Wahai Amirul Mukminin,” ujar salah satu berseru-seru, “Tegakkanlah hukum Allah atas pembunuhan ayah kami ini!”

 ‘Umar bangkit. “Takutlah kalian kepada Allah!” hardiknya, “Perkara apakah ini!”

 Kedua pemuda itu menegaskan bahwa pria belia yang mereka bawa ini adalah pembunuh ayah mereka. mereka siap mendatangkan saksi dan bahwa menyatakan bahwa si pelaku ini telah mengaku. ‘Umar bertanya kepada sang tertuduh. “benarkan yang mereka dakwakan kepadamu ini?”

 “Benar, wahai Amirul Mukminin!”

 “Engkau tidak menyangkal dan wajahmu kulihar ada sesal!” ujar ‘Umar menyelidiki dengan teliti. “ceritakanlah kejadiannya!”

 “Aku datang dari negeri yang jauh,” kata belia itu. “begitu sampai di kota ini kutambatkan kudaku di sebuah pojon dekat kebun miliki keluarga mereka. kutinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatu hajar tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.”

“Saat aku kembali,” lanjutnya sembari menghela nafas, “ku lihat seorang lelaki tua yang kemudian aku tahu adalah ayah dari kedua pemuda ini sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga kuda malang itu tewas mengenaskan. Melihat kejadian itu, aku dibakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki itu. Aku memohon ampun kepada Allah karenanya.”

‘Umar tercenung.

“Wahai Amirul Mukminin,” kata salah satu dari kedua kakak beradik itu, “tegakkanlah hukum Allah. Kami meminta qishash atas orang ini. jiwa dibayar dengan jiwa.”

‘Umar melihat pada tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar hawa amarah. Tapi sangat jelas bahwa wajahnya teduh. Akhlaknya santun. Gurat-gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. ‘Umar iba dan merasa alangkah sia-sia nya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi. “Bersediakah kalian,” ucap ‘Umar pada kedua pemuda penuntut qishash,”menerima pembayaran diyat dariku atas nama pemuda ini dan memaafkannya?”

Kedua pemuda itu saling pandang. “Demi Allah, hai Amirul Mukiminin. Sungguh kami sangat mencintai ayah kami. Dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. Keberadaannya di tengah kami takkan terbayar dan tergantikan dengan diyat sebesar aapun. Lagipula kami bukanlah orang miskin yang menghajarkan harta. Hati kami baru akan tentram jika had ditegakkan!”

‘Umar terhenyak. “Bagaimana menurutmu?” Tanyanya pada sang terdakwa.

“Aku ridha hukum Allah ditegakkan atasku, wahai Amirul Mukminin,” kata si belia dengan yakin. “namun ada yang menghalangiku untuk semantara ini. ada amanah dari kaumku atas berberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. demikian juga keluargaku. Aku bekerja menafkahi mereka. hasil jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku.”

‘Umar terenyuh. Tak ada jalan lain, hudud harus ditegakkan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus ditunaikan. “Jadi bagaimana” Tanya ‘Umar.

“Jika engkau mengijinkanku, wahai Amirul Mukminin, aku minta waktu tiga hari untuk kembali ke daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Dmei Allah, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu, tegakkan lah had untukku tanpa ragu, wahai putra al khaththab.”

”Adakah orang yang bisa menjaminmu?”

“Aku tidak memiliki seorang pun yang kukenal di kota ini hingga dia bisa kuminta menjadi penjaminku. Aku tidak memiliki seorang pun penjamin kecuali Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

“Tidak! Demi Allah, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu aau aku tidak bisa mengizinkanmu pergi.”

“Aku bersumpah dengan nama Allah yang amat keras adzabnya. Aku takkan menyalahi janjiku.”

“Aku percaya. Tetapi harus ada manusia yang menjaminmu!”

“Aku tak punya!”

“Wahai Amirul Mukminin!” terdengar sebuah suara yang berat dan berwiba menyela. “jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah dia menunaikan amanahnya!” inilah dia, Salman Al-Farisi yang tampil mengajukan diri.

“Engkau hai Salman, bersedia menjamin anak muda ini?”

“Benar. Aku bersedia!”

“Kalian berdua kakak beradik yang mengajukan gugatan,” panggil ‘Umar, “apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Salman al-farisi atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? adapaun Salman demi Allahm aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat.”

Kedua pemuda itu saling pandang. “Kami menerima,” kata mereka nyaris serentak.

Waktu tiga hari yag disediakan untuk sang terhukum nyaris habis. ‘Umar gelisah tak karuan. Dia mondar-mandir sementara Salman duduk khusyu’ didekatnya. Salman tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tak datang memenuhi janji, maka dirinya lah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terpidana untuk menerima qishash.

Waktu terus merambat. Belia itu masih belum muncul.

Kota madinah mulai terasa kelabu. Para sahabat berkumpul mandatangi ‘Umar dan Salman. Demi Allah, mereka keberatan jika Salman harus dibunuh sebagai badal. Mereka sungguh tak ingin kehilangan sahabat yang pengorbanan unutk islam begitu besar itu. Salman seorang sahabat yang tulus dan rendah hati. Dia dihormati. Dia dicintai.

Satu demi satu, berberapa sahabat mengajukan diri sebagai pengganti Salman juka hukuman benar-benar dijatuhkan kepadanya. Tetapi Salman menilak. ‘Umar juga menggeleng. Matahari semakin lingsir ke barat. Kekhawatiran ‘Umar semakin memuncak. Para sahabar makin kalut dan sedih. Hanya berberapa saat menjelang habisnya batas waktu, tanpak seseorang datang dengan berlari tertatih dan terseok. Dia pemuda itu, sang terpidana. “maafkan aku,” ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah, “urusan dengan kaumku ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat beristirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggalkan di tengah jalan. Aku harus berlari-lari untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat.”

Semua yang melihat wajah dan penampilan pemuda ini merasakan satu sergapan iba. Semua yang mendengar penuturannya merasakah keharuan yang mendesak-desak. Semua tiba-tiba merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu.

“Pemuda yang jujur.” Ujar ‘Umar dengan mata berkaca-kaca, “mengapa engkau datang kembali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?”

“Sungguh jangan sampai orang mengatakan,” kata pemuda itu sambil tersenyum ikhlas, “tak ada lagi orang yang tepat janji. Dan jangan sampai ada yang mengatakan, tidak ada lagi kejujuran hati dari kalangan kaum Muslimin.”

“Dan kau Salman,” kata ‘Umar bergetar,”untuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?”

“Sungguh jangan sampai orang bicara,” ujar Salman dengan wajah teduh. “bahwa tak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya. Atau jangan sampai ada yang merasa bahwa tak ada lagi rasa saling percaya di antara orang-orang Muslim.”

“Allahu Akbar!” kata ‘Umar, “segala puji bagi Allah. Kalian telah membesarkan hati umat ini dengan kemuliaan sikap dan agungnya iman kalian. Tetapi bagaimanapun wahai pemuda, had untukmu harus kami tegakkan!”

Pemuda itu mengangguk pasrah

“Kami memutuskan…” kata kakak beradik penggugat yang tiba-tiba menyeruak, “untuk memaafkannya.” Mereka tersedu sedan. “kami melihat seseorang yang berbudi dan tepat janji. Demi Allah, pasti benar-benar sebuah kekhilafan yang tak disengaja jika dia sampai membunuh ayah kami. Dia telah menyesal dan beristighfar kepada Allah atas dosanya. Kami memaafkannya. Jangan menghukumnya wahai Amirul Mukminin.”

“Alhamdulillah! Alhamdulillah!” ujar ‘Umar. Pemuda terhukum itu sujud syukur. Salmat tak ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan asma Allah, yang kemudian diikuti oleh semua hadirin.

“Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” Tanya ‘Umar kepada kedua ahli waris korban.

“Agar jangan sampai ada yang mengatakan, bahwa dikalangan kaum Muslimin tak ada lagi kemaafan, pengampunan, iba hati, dan kasih sayang.”

disadur dari buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” karya Salim A. Fillah

  1. ceritasebelumtidur reblogged this from ajprasetyo
  2. ajprasetyo posted this