stat tracker for tumblr
The Life of Rie

Doa

Aku masih ingat benar salah satu moto yang juga jadi doaku pada Tuhan.

Meet new people, visit new places, learn new things.

Pertemukan aku dengan orang-orang baru dimana tak ada yang mengenalku sebelumnya, sampaikan aku di tempat-tempat baru yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya, dan ajarkan aku ilmu-ilmu kehidupan baru yang belum aku pelajari sebelumnya.

Aku selalu membayangkan hal-hal tersebut di tiap-tiap hariku.

Dan, nyatanya Tuhan selalu menjawab manis doaku di setiap periode putaran waktu hidupku.

Termasuk kali ini. Tahun 2014, tahun dimana Ia pertemukan aku dengan keluarga besar Indonesia Mengajar. Tak ada satupun dari pengajar muda yang sudah aku kenal sebelumnya. Lagi-lagi semua baru. Tapi, kami dipertemukan dalam tujuan yang satu, kembali memberi untuk Indonesia dengan mengajar di pelosok negeri.

Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi. Empat tahun lalu, empat kata ini yang terus menghidupkan aku untuk terus mendekatkan mimpi itu.
Menciptakan pemimpin yang tidak hanya memiliki kompetensi global, tetapi juga memahami kearifan local—local grassroot understanding and global competence, nilai yang menginspirasi aku selama menjalani masa-masa perkuliahan.
Ya, menjadi pengajar muda Indonesia Mengajar adalah sebuah impian untuk berbakti dan mengabdi pada negeri.

Menghidupkan terus impian. Karena impian yang hidup akan menjelma menjadi hidup yang menyala. Semoga Allah menguatkan :”“)

***

Depok, 15 April 2014

*yang sedang merindukan kata-kata dan menyadari bahwa sudah begitu lama tidak berinteraksi dengan kata dalam tulisan. Dan rasanya begitu asing. Manusia ini begitu mudahnya untuk lupa.

Sudah lama tak berucap lewat kata. Apa kabar? Tanyaku pada diri sendiri.

Di atas kasur empuk, ditemani suara lantunan alquran, yang diputar oleh teman dibawah kasurku yang masih harus berkutat dengan tugas kuliahnya. Aku yang sambil sesekali membuka jendela, melihat apakah benar di luar bulan sedang merona bercahaya. Ah, tapi sayang tak terlihat dari sini. Aku, yang sudah hampir jam membaringkan diri di atas kasur, tapi lantas tak bisa juga tidur. Aku, yang pikirannya sedang menjelajah ke beberapa hari dan bulan kedepan, yang menyata bahwa waktuku tinggal sebentar lagi di sini, sebentar lagi bersama mereka.

Sambil membaca kembali kisah-kisah pengajar muda, memutar kembali memori mereka tiga tahun silam, membayangkan mereka di pelosok tanpa listrik yang menerangiku seperti malam ini, tanpa kasur yang seempuk kasurku hari ini, tanpa sinyal penuh dan tuts2 smartphone tempat aku menuliskan pikiranku ini. Kemudian, itu nanti yang aku pun akan jalani di beberapa bulan ke depan, satu tahun ke depan. Aku tersenyum.


Membaca kembali kisah mereka membuat aku semakin yakin, membuat aku semakin bersiap. Bahwa apa-apa yang aku jalani tiap detiknya harus jadi berarti.

:’)

***

Depok, 15 April 2014
*Menjelang lima hari keberangkatan training pengajar muda angkatan viii. Ada yang rasa berbeda, rasa yang belum pernah dirasa sebelumnya*

When you forget..

When you forget the things you enjoy the most.
When you forget the people you love the most.
When you forget how to start.
When you forget why you smile.
When you forget when the last time you remember.

thepathofabeliever:

It is not time that ages you, it is the people that surround you. It is their influence and how you choose to let it affect you.

(via lystiawati-mita)

"Apa Kabar?"

"Apa kabar?"

Kata sakti itu yang hanya bisa aku ucap, setiap percakapan kita kembali bermula. Tak ada jumpa memang membuat banyak tanya memenuhi isi kepala. Kita sama-sama tahu itu. Tapi, kita selalu berpura-pura dan minta untuk diterka. Entah, sampai kapan, kita terus mencoba untuk bersandiwara lewat basa-basi kata yang terbalut dalam ruang diam.

"Apa kabar?"

Mungkin kita sama-sama tahu ini bukan sekadar dua kata tanya yang menanti jawaban ‘semua baik-baik saja’. Ada tanya atas setiap ketidakjumpaan yang terlampau lama. Apa yang kamu lakukan di sana dan apa yang aku lakukan di sini. Kita terlampau jauh berbeda hingga sapa ini menjadi jeda atas semua reka.

"Apa kabar?"

Pada akhirnya aku sampai pada keyakinan bahwa Tuhan membuat skenario ini—ketidakjumpaan yang terlampau lama untuk tumbuhkan satu pembuktian, siapa yang benar-benar ada ketika yang lain tak pernah kembali menegur sapa.

"Apa kabar?"

Mungkin kita tidak dapat memutar kembali waktu dimana setiap kita jumpa selalu ada kenang rindu yang terekam dalam memori kepala. Tapi, bukankah ketidakjumpaan ini buat kita saling berdoa agar kita senantiasa terbalut karunia-Nya—dimanapun kita berada?

Perjalanan selalu memberikan pencerahan. Begitu pun kali ini. Perjalanan menuju kota dimana Ayahku dibesarkan, di selatan Jawa Timur, Jember. Dahulu, ketika ku masih kecil, aku suka sekali memereteli kata ini menjadi Jemberrrrr, berrr, berrr sambil berceloteh sesuka hati. Lucu, kenangku dulu tentang nama kota ini. 
Ayahku seorang Jawa, keturunan Ponorogo dan Banyuwangi. Nenek dan kakekku berpindah dari tanah kelahirannya dan menetap di Jember hingga hari ini, ketika mereka pun dimakamkan berdampingan di seberang rumah. Manis, ketika aku mendatangi mereka dan berdoa, semoga mereka bahagia di sana.
Seorang anak kota yang kembali lagi ke tanah leluhurnya. Ada rindu walau hanya sesekali waktu ku habiskan di sini. Walaupun tak bisa aku pahami bahasa leluhurku—tak mengerti bahasa Jawa, justru mengerti bahasa sunda,  tapi aku bisa mengerti dari laku mereka, senyuman tulus mereka bahwa di sinilah silsilah keluargaku bermula.
Di sini, sekelilingku penuh hijau, damai dan tentram. Anak-anak hingga bapak ibu saling bersilaturahim dengan sepeda tua-nya. Indahnya persaudaraan. Makan pagi tersaji dengan menu sederhana dari alam tanpa banyak pengawet sana-sini. Enak dan menyehatkan.
**
Kita selalu mencari apa yang kita tidak miliki hingga kemudian kita lupa untuk mensyukuri atas apa yang telah kita miliki.
Perjalanan mengajarkan kita untuk menikmati setiap detik yang kita miliki karena kita tahu ketika langkah sudah dijejaki tak pernah ada waktu yang kembali.
**
12 Januari 2014
Perjalanan Jember-Lumajang Perjalanan selalu memberikan pencerahan. Begitu pun kali ini. Perjalanan menuju kota dimana Ayahku dibesarkan, di selatan Jawa Timur, Jember. Dahulu, ketika ku masih kecil, aku suka sekali memereteli kata ini menjadi Jemberrrrr, berrr, berrr sambil berceloteh sesuka hati. Lucu, kenangku dulu tentang nama kota ini. 
Ayahku seorang Jawa, keturunan Ponorogo dan Banyuwangi. Nenek dan kakekku berpindah dari tanah kelahirannya dan menetap di Jember hingga hari ini, ketika mereka pun dimakamkan berdampingan di seberang rumah. Manis, ketika aku mendatangi mereka dan berdoa, semoga mereka bahagia di sana.
Seorang anak kota yang kembali lagi ke tanah leluhurnya. Ada rindu walau hanya sesekali waktu ku habiskan di sini. Walaupun tak bisa aku pahami bahasa leluhurku—tak mengerti bahasa Jawa, justru mengerti bahasa sunda,  tapi aku bisa mengerti dari laku mereka, senyuman tulus mereka bahwa di sinilah silsilah keluargaku bermula.
Di sini, sekelilingku penuh hijau, damai dan tentram. Anak-anak hingga bapak ibu saling bersilaturahim dengan sepeda tua-nya. Indahnya persaudaraan. Makan pagi tersaji dengan menu sederhana dari alam tanpa banyak pengawet sana-sini. Enak dan menyehatkan.
**
Kita selalu mencari apa yang kita tidak miliki hingga kemudian kita lupa untuk mensyukuri atas apa yang telah kita miliki.
Perjalanan mengajarkan kita untuk menikmati setiap detik yang kita miliki karena kita tahu ketika langkah sudah dijejaki tak pernah ada waktu yang kembali.
**
12 Januari 2014
Perjalanan Jember-Lumajang

Perjalanan selalu memberikan pencerahan. Begitu pun kali ini. Perjalanan menuju kota dimana Ayahku dibesarkan, di selatan Jawa Timur, Jember. Dahulu, ketika ku masih kecil, aku suka sekali memereteli kata ini menjadi Jemberrrrr, berrr, berrr sambil berceloteh sesuka hati. Lucu, kenangku dulu tentang nama kota ini.

Ayahku seorang Jawa, keturunan Ponorogo dan Banyuwangi. Nenek dan kakekku berpindah dari tanah kelahirannya dan menetap di Jember hingga hari ini, ketika mereka pun dimakamkan berdampingan di seberang rumah. Manis, ketika aku mendatangi mereka dan berdoa, semoga mereka bahagia di sana.

Seorang anak kota yang kembali lagi ke tanah leluhurnya. Ada rindu walau hanya sesekali waktu ku habiskan di sini. Walaupun tak bisa aku pahami bahasa leluhurku—tak mengerti bahasa Jawa, justru mengerti bahasa sunda,  tapi aku bisa mengerti dari laku mereka, senyuman tulus mereka bahwa di sinilah silsilah keluargaku bermula.

Di sini, sekelilingku penuh hijau, damai dan tentram. Anak-anak hingga bapak ibu saling bersilaturahim dengan sepeda tua-nya. Indahnya persaudaraan. Makan pagi tersaji dengan menu sederhana dari alam tanpa banyak pengawet sana-sini. Enak dan menyehatkan.

**

Kita selalu mencari apa yang kita tidak miliki hingga kemudian kita lupa untuk mensyukuri atas apa yang telah kita miliki.

Perjalanan mengajarkan kita untuk menikmati setiap detik yang kita miliki karena kita tahu ketika langkah sudah dijejaki tak pernah ada waktu yang kembali.

**

12 Januari 2014
Perjalanan Jember-Lumajang

“Sometimes the most interesting and meaningful moments we have are the everyday happenings that are easily forgettable. In the end, these moments are the true treasures that we cherish.”
Wesley Chan (At Musing’s End)
pandaontheroof:

outofthecavern:

shuraiya:

itsaliens:

morgozlukiz:

Bundan istiyorum ya..

Oh god I just bought it because of this.

Oh! My sister-in-law had one of these. I really want it. Can somebody send one to Turkey for me? 

i want it

A friend of mine had one of these. During driver’s ed, I was flipping through it with her reading it over my shoulder. One of the pages said “Suddenly, violently, attack this page” and she suddenly punched the book which was on my leg and started shredding the page. Our teacher looked at me and told me to be quiet.
Because a girl was destroying a book in my lap

I should have one of this book! :”))) pandaontheroof:

outofthecavern:

shuraiya:

itsaliens:

morgozlukiz:

Bundan istiyorum ya..

Oh god I just bought it because of this.

Oh! My sister-in-law had one of these. I really want it. Can somebody send one to Turkey for me? 

i want it

A friend of mine had one of these. During driver’s ed, I was flipping through it with her reading it over my shoulder. One of the pages said “Suddenly, violently, attack this page” and she suddenly punched the book which was on my leg and started shredding the page. Our teacher looked at me and told me to be quiet.
Because a girl was destroying a book in my lap

I should have one of this book! :”))) pandaontheroof:

outofthecavern:

shuraiya:

itsaliens:

morgozlukiz:

Bundan istiyorum ya..

Oh god I just bought it because of this.

Oh! My sister-in-law had one of these. I really want it. Can somebody send one to Turkey for me? 

i want it

A friend of mine had one of these. During driver’s ed, I was flipping through it with her reading it over my shoulder. One of the pages said “Suddenly, violently, attack this page” and she suddenly punched the book which was on my leg and started shredding the page. Our teacher looked at me and told me to be quiet.
Because a girl was destroying a book in my lap

I should have one of this book! :”))) pandaontheroof:

outofthecavern:

shuraiya:

itsaliens:

morgozlukiz:

Bundan istiyorum ya..

Oh god I just bought it because of this.

Oh! My sister-in-law had one of these. I really want it. Can somebody send one to Turkey for me? 

i want it

A friend of mine had one of these. During driver’s ed, I was flipping through it with her reading it over my shoulder. One of the pages said “Suddenly, violently, attack this page” and she suddenly punched the book which was on my leg and started shredding the page. Our teacher looked at me and told me to be quiet.
Because a girl was destroying a book in my lap

I should have one of this book! :”))) pandaontheroof:

outofthecavern:

shuraiya:

itsaliens:

morgozlukiz:

Bundan istiyorum ya..

Oh god I just bought it because of this.

Oh! My sister-in-law had one of these. I really want it. Can somebody send one to Turkey for me? 

i want it

A friend of mine had one of these. During driver’s ed, I was flipping through it with her reading it over my shoulder. One of the pages said “Suddenly, violently, attack this page” and she suddenly punched the book which was on my leg and started shredding the page. Our teacher looked at me and told me to be quiet.
Because a girl was destroying a book in my lap

I should have one of this book! :”))) pandaontheroof:

outofthecavern:

shuraiya:

itsaliens:

morgozlukiz:

Bundan istiyorum ya..

Oh god I just bought it because of this.

Oh! My sister-in-law had one of these. I really want it. Can somebody send one to Turkey for me? 

i want it

A friend of mine had one of these. During driver’s ed, I was flipping through it with her reading it over my shoulder. One of the pages said “Suddenly, violently, attack this page” and she suddenly punched the book which was on my leg and started shredding the page. Our teacher looked at me and told me to be quiet.
Because a girl was destroying a book in my lap

I should have one of this book! :”))) pandaontheroof:

outofthecavern:

shuraiya:

itsaliens:

morgozlukiz:

Bundan istiyorum ya..

Oh god I just bought it because of this.

Oh! My sister-in-law had one of these. I really want it. Can somebody send one to Turkey for me? 

i want it

A friend of mine had one of these. During driver’s ed, I was flipping through it with her reading it over my shoulder. One of the pages said “Suddenly, violently, attack this page” and she suddenly punched the book which was on my leg and started shredding the page. Our teacher looked at me and told me to be quiet.
Because a girl was destroying a book in my lap

I should have one of this book! :”))) pandaontheroof:

outofthecavern:

shuraiya:

itsaliens:

morgozlukiz:

Bundan istiyorum ya..

Oh god I just bought it because of this.

Oh! My sister-in-law had one of these. I really want it. Can somebody send one to Turkey for me? 

i want it

A friend of mine had one of these. During driver’s ed, I was flipping through it with her reading it over my shoulder. One of the pages said “Suddenly, violently, attack this page” and she suddenly punched the book which was on my leg and started shredding the page. Our teacher looked at me and told me to be quiet.
Because a girl was destroying a book in my lap

I should have one of this book! :”))) pandaontheroof:

outofthecavern:

shuraiya:

itsaliens:

morgozlukiz:

Bundan istiyorum ya..

Oh god I just bought it because of this.

Oh! My sister-in-law had one of these. I really want it. Can somebody send one to Turkey for me? 

i want it

A friend of mine had one of these. During driver’s ed, I was flipping through it with her reading it over my shoulder. One of the pages said “Suddenly, violently, attack this page” and she suddenly punched the book which was on my leg and started shredding the page. Our teacher looked at me and told me to be quiet.
Because a girl was destroying a book in my lap

I should have one of this book! :”)))

pandaontheroof:

outofthecavern:

shuraiya:

itsaliens:

morgozlukiz:

Bundan istiyorum ya..

Oh god I just bought it because of this.

Oh! My sister-in-law had one of these. I really want it. Can somebody send one to Turkey for me? 

i want it

A friend of mine had one of these. During driver’s ed, I was flipping through it with her reading it over my shoulder. One of the pages said “Suddenly, violently, attack this page” and she suddenly punched the book which was on my leg and started shredding the page. Our teacher looked at me and told me to be quiet.

Because a girl was destroying a book in my lap

I should have one of this book! :”)))

(via feeebot)

Sama

Aku selalu bertanya dalam setiap kisah yang aku baca dan cerita yang aku dengar, bagaimana mungkin rasa dapat terjaga begitu lama tanpa ada perjumpaan di dalamnya. Bukankah tanpa perjumpaan, tanpa interaksi, rasa itu bisa memudar dengan sendirinya? Awalnya, itu yang aku pahami. Tapi, mungkin tidak begitu kenyataannya. Aku menemukan sebuah fenomena yang aku alami sendiri.

Bahwa seberapapun jauh jarak terpisah, seberapa lamapun waktu tak jumpa, kita selalu punya cara yang sama dalam menyimpan rasa tentang mereka, dulu ataupun kini. Rasa yang tanpa kita sadari, kita jaga dengan hati-hati. Memang tak sering kita kunjungi, tapi interaksi antar hati selalu tahu sejauh mana satu frekuensi akan saling beresonansi kembali. Ketika waktunya tiba pada jumpa yang tak kita sangka, kita akan temukan bahwa masih tersimpan rasa yang sama.

justhityou:

Dar Es Salaam, 06 July 2013 [11:44am]

 

“He who wanders around by day a lot, learn a lot.” ~ Old African Proverbs

***

 

Dua hari saya lewatkan di Dar Es Salaam, sebuah kota metropolis di Timur Afrika. Ibukota Republik Tanzania, rumah bagi Kilimanjaro; Satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia. Dalam bahasa Swahili, mereka menyebut Dar Es Salaam dengan  “Bongo” atau “Otak”, satu-satunya hal yang membuat seseorang dapat bertahan dalam kota dimana lebih dari 70% penduduknya hidup tanpa sanitasi, air ataupun listrik yang memadai.

Dar Es Salaam tidak tercipta dalam semalam,  sejarah panjang kota ini mengular dari masa keemasan dinasti-dinasti Yaman hingga ke tapak-tapak kaki para penguasa Eropa. Dalam rentang masa Dar Es Salaam berevolusi panjang, tertidur sekejap saat karavan budak dihentikan hingga kemudian kembali bangun dalam keriuhan pembangunan sejak abad ke 19 dimulai.

Sebelum matahari meninggi, saya telah turut berjejalan dengan penduduk Dar Es Salaam di atas Dala-Dala, angkutan umum yang menyusuri tiap lekuk kota ini. Membiarkan diri saya terlarut dalam alunan musik India, aroma tubuh khas Afrika, rombongan perempuan tinggi semampai yang tertutup burqa, serta anak muda dengan gaya ghetto khas Amerika. Sekejap saya takjub dengan kemampuan bus kecil ini menyatukan berbagai kultur yang tampaknya saling berseberangan.

Masih terngiang percakapan saya dengan Vicki (tuan rumah saya) pagi tadi, olehnya dibagi sekeping rahasia kota ini.

 “You should see Dar like how old people used to see it. The city once a grand design Apartheid of “Uzunguni” “Uhindini” and “Uswahilini” The term is no longer used, but you can still see the stamp on architecture and feeling in each zone”.

Rupanya catatan panjang kota ini pun pernah menuliskan kisah tentang paham rasial dalam bentuk tata kota dan arsitekturnya, sungguh menarik!

Benar saja, saat dala-dala membawa saya ke Kariakoo yang menjadi “Uswahilini” atau area Afrika. Saya dapat merasakan aroma kemiskinan dan pembangunan yang tersengal-sengal. Jejeran rumah serta toko kecil saling berdempetan. Sesekali saya menjumpai pria masaai yang tengah menggelar lapak dagangannya di pinggir jalan, mencoba peruntungannya pada mereka yang masih percaya pada pengobatan tradisional Afrika.

Beberapa kilometer dari situ, “Uhindini” atau area India tampak hiruk pikuk dengan berbagai macam aktivitas ekonomi, ratusan toko di daerah ini layaknya toserba, menjual hampir semua hal yang dibutuhkan manusia. Sebesar ban traktor cina ataupun sekecil sekrup-sekrup yang menempel di gagang kacamata.  Toko-toko berbagi tanah di daerah ini dengan jejalan kuil dan mesjid seperti saya berbagi sebilah bangku kayu kecil di warung teh masala siang ini dengan seorang muslim sunni yang baru selesai dari sholatnya.

Segelas teh dan percakapan singkat mengenai Obama yang berkunjung ke Tanzania, menjadi pelepas lelah sebelum saya kembali berkendara di atas dala-dala yang membawa saya ke area terakhir “Uzunguni” atau area Eropa.

Uzunguni cantik dan asri, berhias bangunan-bangunan tinggi nan putih. Dua buah gereja memagar kedua ujungnya, jejeran hotel berbintang, toko-toko dengan etalase kaca serta kantor-kantor bertaraf internasional hanya berjarak beberapa langkah saja. Dari dermaga ferry, saya memandang bangunan-bangunan tua yang menjadi rangkaian bangunan pertama yang di didirikan di tanah ini. The White Father’s House tampak berkilau di terpa sinar matahari siang itu, dalam bisu bangunan putih itu menghamparkan kisah tentang rumah para selir sultan yang kemudian “disucikan” oleh gereja Katolik Roma dan masih dipergunakan hingga sekarang.

Dalam sebuah perjalanan, saya senang mengunjungi bangunan. Bagi saya bangunan sangat pandai bercerita, saat masa menuliskan sejarah bangunan merekamnya. Drama, intrik, cinta, ataupun pencapaian penghuninya, semua terekam dalam tiap-tiap ruang dan dindingnya dan di Dar Es Salaam banyak bangunan yang menanti seseorang datang untuk mendengarkannya berkisah. Cukup meluangkan sedikit waktu dan saya pun pulang dengan pengetahuan baru!

***

Melintas tiga area, berjalan menyusuri lekuk-lekuk masa dan ikut larut dalam irama penduduknya. Kini saya melihat Dar Es Salaam dalam wujud yang berbeda, bukan lagi sebuah kota metropolis besar di timur Afrika tetapi rumah bagi jutaan jiwa dengan sejarah panjang. Saya ingin kembali ke kota ini sekali lagi, untuk sekadar mencicipi paan Tanzania yang legendaris ataupun berbagi cerita serta kelakar di warung teh masala.

Dan siapa tahu, mungkin saja saya akan kembali menemukan sekeping rahasia kota di sudut-sudut jalannya…

#IbuPeradaban (:

“Karena tiang peradaban suatu bangsa ada di tangan para ibu.”

Di Hari Ibu kali ini,
Yuk turut sampaikan pendapat kamu tentang 
pentingnya peran Ibu dalam membangun suatu peradaban
dengan tagar #IbuPeradaban! (:
Kapan? Malam ini 22 Desember 2013 dari pukul 20.00-22.00.

Satu tweet kamu dapat menginspirasi setiap wanita untuk menjadi calon #IbuPeradaban di masa depan. 

Karena setiap kita punya peran untuk mengingatkan dan mempersiapkan.

Untuk kamu para wanita, sudah siapkah kamu menjadi #IbuPeradaban di masa depan? 

Temukan jawabannya segera di 
@IbuPeradaban 
Ibuperadaban.tumblr.com

“Jangan pernah risau dg apa yg dikatakan orang. Kita hanya perlu risau dengan perbuatan sendiri. Karena yg dihisab kelak adalah perbuatan kita, bukan omongan orang lain.”
— Isna Maratu
shofiyyahtaqi:

actually, keep it hidden with a laugh 

shofiyyahtaqi:

actually, keep it hidden with a laugh 

“Orang yang powerfull bukanlah orang yang mampu memengaruhi peristiwa. Tetapi, orang yang tidak terpengaruh peristiwa—yang selalu tenang menghadapi suasana seperti apapun.”
— "Pepeng" Ferrasta dalam That’s All