stat tracker for tumblr
The Life of Rie
“Karena mendoakan adalah cara mencintai yang paling rahasia.”
“Jadi orang itu, DIPUJI jangan TERBANG, DICACI jangan TUMBANG”
— Hanya seorang Walikota Bandung, Kang Emil dijeda-jeda nge-MC (via choqi-isyraqi)

(via rachmadeniashafira)

crushis:

Dr. Salman Al Odah
crushis:

Dr. Salman Al Odah
crushis:

Dr. Salman Al Odah

Aru Raja aka Karumbu

Aru Raja aka Karumbu. Artinya, Hari Raya di Karumbu dalam bahasa Bima. Ya momen lebaran tahun ini spesial, menapaki daerah baru, bersama keluarga baru, di Desa Karumbu, Bima.

Desa Karumbu adalah ibukota dari Kecamatan Langgudu, salah satu desa paling ramai diantara desa-desa lain di sini. Ketika hari raya, seluruh penduduk dosa berbondong-bondong mendatangi Mesjid Raya At Taqwa, mesjid terbesar di desa ini yang konon bisa menampung seluruh penduduk desa yang berjumlah hampir lima ribu orang.

Tidak ada tradisi masak ketupat, sayur opor ayam, atau kue-kue lebaran. Di sini, masyarakat merayakan lebaran cukup dengan bersilaturahim mendatangi satu persatu sanak saudara. Ya, tidak jauh berbeda seperti di kampung-kampung lain.

Salah satu yang istimewa adalah satu hari menjelang hari raya, anak-anak kelas empat dan saya ikut serta kerja bakti membersihkan mesjid yang penuh dengan debu itu karena masih dalam proses pembangunan.

Anak-anak antusias sekali. Mereka membawa cafi uma (sapu rumah) dan cafi nganci (sapu lidi) untuk karaso-karaso atau bersih-bersih. Dari membersihkan aula lantai atas, tempat wudhu, sampai membereskan sampah-sampah di halaman mesjid. Mereka punya inisiatif yang tinggi, cekatan, dan punya kerja sama yang baik. Ketika saya baru mengambil satu ember air, ‘sudah ibue sama saya saja.’ Dan untuk setiap hal yang saya lakukan, mereka langsung sesegera itu mengambil inisiatif untuk melanjutkan pekerjaan hingga tuntas.

Kembali ke hari ini, belajar bahwa sepertinya saya diminta untuk lebih jeli dalam hidup berkeluarga besar. Karena ayah dan ibu angkat saya adalah sepupu jauh, jadi kami masuk sebagai keluarga besar, sungguh besar. Satu desa mungkin selalu ada kaitannya dengan ibu dan bapak. Jadi, belajar untuk memaknai hubungan.

*dulu saat lebaran di kampung mama dan papa, saya adalah anak sulung yang selalu suka asik sendiri, malas gerak untuk keliling2, dan asyik bermain dengan sepupu2 dekat saja, karena terbiasa memiliki keluarga kecil di rumah.

Haha dan di sini, mau tak mau harus mengenal dan mengakrabkan diri lebih jauh dengan ragam orang, yang tua sampai yang paling bayi :”) dan menjadikan mereka sebagai keluarga :)

**

Karumbu, 28 Juli 2014

Dimanapun kamu berada, keluarga selalu ada menyertai kita dalam doa.

Kembali #2

Malam ini kembali ada obrolan dalam diri sendiri di masa lalu dan hari ini. Ah, Tuhan selalu tahu caranya. Dengan tanpa sengaja, membuka kembali postingan demi postingan tumblr di dua tahun lalu, sepanjang 2012. Sudah cukup lama ya, ternyata :). Haha, time flies very very fast.

**

2012. Tahun penuh idealisme. Tahun penuh produktivitas. Mungkin itu adalah salah satu tahun terbaik saya selama di kampus. Tahun dimana saya dipertemukan dengan orang-orang terbaik yang mencintai-Nya. Tahun dimana saya memulai kembali fase untuk kembali mendekat pada-Nya dengan memperbaiki diri, memahami kembali apa-apa yang Ia cinta agar mendapat cinta-Nya dengan lebih.

2012. Tahun dimana satu demi satu impian dibuat oleh-Nya tercapai. Juga menjadi tahun memulai merancang satu demi satu mimpi di tahun-tahun selanjutnya. Yang kemudian, memutar kembali di masa itu membuat hari ini, dua tahun setelahnya menjadi pengingat. Sejauh mana impian-impian itu sudah berhasil tercapai. Ada tamparan halus. Ada senyum terkikih membaca begitu semangatnya masa-masa itu. Maka hari ini semangat itu harus semakin hidup. Yaa, harus :)

2012. Ketika postingan tumblr begitu jenaka. Jujur. Dalam bahasa yang begitu apa adanya. Dan, begitu real, tentang keseharian bukan sebatas metafora kata. Ia lugas dan jelas. Ketika teman-teman tumblr masih tidak sebegitu banyak sekarang. Haha. Yaa, harus diakui sekarang begitu banyak dan ragam tapi topiknya sudah semakin mengerucut ke topik-topik tertentu. *Fyi, dulu lebih bebas rasanya. Sekarang jg masih sih, depend on kt*

**

Baiklah sekian recalling back memories edition 2012. Thanks Allah untuk kesempatannya! Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H, everyone! :3

Melaporkan dari Desa Karumbu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. 1 Syawal 1435 H / 28 Juli 2014.

Kembali

Malam ini, alam pikiran mulai berbicara kembali pada dirinya sendiri. Ia yang di hari ini seakan bertanya pada ia yang ada di masa lalu. Jadi, tolong biarkan mereka berbicara asyik sendiri. Jangan diganggu, aku mohon.

***

Aku di sini sedang sibuk dalam alam pikiranku. Tentang anak-anakku yang semakin membuatku penasaran. Dan, juga tentang diriku sendiri yang mengundang ribuan tanya dalam diam.

Entahlah, mengapa aku menjadi begitu sulit untuk menulis? Apa karena aku nya saja yang terlampau malas? Atau memang kemampuan menulisku menjadi menurun dratstis semenjak lepas dari bangku kuliah? Hahahaha. Ini bisa jadi tersangka utama. Sangat memalukan kalau memang begitu jadinya. Untuk apa aku kuliah tinggi-tinggi, kalau menulis sebagai salah satu pengikat ilmu, tidak aku lakukan.

Oiya, omong-omong. Semenjak aku di sini, aku seperti kembali ke masa kecil. Sepertinya aku kembali ke masa-masa sebelum pernah ke kampus. Bahkan kadang aku lupa rasa dulu menjadi mahasiswa, mengikuti organisasi, belajar buku-buku tebal ekonomi dan akuntansi, lalu berdiri untuk sidang skripsi, keliling mengikuti kompetisi dan konferensi, dalam dan luar negeri. Sungguh, aku rasa-rasanya sudah lupa itu semua.

Aku seperti kembali kecil. Kembali bermain ke masa-masa kanak dulu. Kembali ke kehidupan rumah, bersih-bersih, membantu memasak ibu di dapur, menyiram tanaman, memberi makan ternak, bermain di tanah lapang bersama teman-teman kecil, berkunjung dan mengobrol bersama tetangga, tanpa beban, tanpa tendensi, tanpa iming-iming. Hal-hal yang luput aku tinggalkan selama bertahun-tahun lamanya. Mungkin. Haha kalau ini benar, sepertinya menyedihkan sekali hidupku sebelumnya. Ahhh, tapi kamu tak boleh seperti hilang syukur seperti itu. Tidakk, aku sebenarnya justru bersyukur. Sekali.

Aneh sekali rasanya. Ada asing yang terlampau lama. Lalu, aku kembali bertanya? Lantas selama ini apa yang aku lakukan? Sudahlah, sudahi saja. Tak usah banyak beradu tanya dengan dirimu di masa lalu.

Mungkin ini semacam jawaban Tuhan untukku agar bisa menikmati kembali masa-masa bergaul dengan alam dan manusia lebih dekat.
Ya, benar juga.

Omong-omong lagi, di sini entah waktu rasanya bergulat begitu lambat. Tidak perlu ketergesa-kesaan. Di sini penuh dengan ketenangan. Tidak seperti dulu di kota, di saat sekolah. Dimana sepertinya setiap yang aku lakukan seperti sedang saling berkejaran. Rasanya aneh tak ada yang mengejar, kecuali diri sendiri yang mengingatkan.

**

Baiklah. Mungkin sekian, sebuah igauan tengah malam. Tentang racauan-racuaan yang tak perlu dihiraukan. Ia hanya minta untuk dikeluarkan, tapi tidak harus didengar.

Berharap boleh tentu ya. Semoga kamu terus menikmati apa-apa yang Tuhan sajikan. Ini sebuah kesempatan yang tak boleh dilewatkan dengan kesia-siaan.

**
Karumbu, 25 Juli 2014

“Yang jauh itu waktu yang telah berlalu. Yang besar itu nafsu. Yang berat itu amanah. Yang ringan itu mengingkari janji. Yang abadi itu amal kebajikan. Yang paling pasti itu kematian.”
— Komaruddin Hidayat dalam Surat dari & untuk Pemimpin

Hari ini, bada sholat ashar, menjelang waktu berbuka, kembali membersamai mereka. Kelas Upa belajar matematika.

Guru-guru bilang selama bulan puasa, tidak seharusnya ada kegiatan belajar mengajar. Belajar baru dimulai nanti setelah lebaran. Biarkan anak-anak bermain. Ada takut dari mereka jika mengajar justru membuat mereka akan mudah marah dan emosi mengatasi keriuhan anak-anak.

Tapi, ternyata tidak bagi anak-anak sendiri. Mereka justru yang antusias untuk belajar. Terlebih, belajar matematika. Ada binar mata yang menyala menyelesaikan satu demi satu soal. Ada ruang ingin tahu yang terus ingin diisi dengan menjawab satu demi satu soal yang terlampau aneh dan langka bagi mereka.

Tidak semua anak sama. Ada yang seperti kilat. Ada yang perlahan menapaki satu demi satu pertanyaan. Di sini, kita belajar tentang menjelikan mata untuk peka kepada satu per satu mereka.

***

Menjadi pendidik adalah belajar tentang makna sebuah kesabaran. Sabar untuk memberi ruang kesempatan bagi mereka untuk bertanya terus-menerus. Tidak segera memberi jawab. Sekali lagi memberi kesempatan mereka untuk mencari jawabnya sendiri lewat akal yang terus mereka gali.

Menjadi pendidik adalah belajar tentang melihat jauh ke depan. Bahwa mereka kelak adalah calon-calon pemimpin Indonesia dan dunia masa depan. Dan, dengan hati yang peka dan terbuka, membersamai mereka hari ini menjadi sebuah kebanggaan :)


Karumbu, 17 Juli 2014.

Barangsiapa memperbagus hal-hal tersembunyinya, niscaya Allah jelitakan apa yang tampak dari dirinya.

Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Allah baikkan hubungannya dengan sesama.

Barangsiapa disibukkan oleh urusan agamanya, maka Allah yang kan mencukupinya dalam perkara dunia.

— Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz (via irinepraptiningtyas)

(via ahmadsubhan)

“Menurut saya, ikhlas itu sederhana: ketika kita mengikhlaskan sesuatu, maka tak perlu dipikirkan dan tak perlu dirasakan.”
— (via herricahyadi)

(via ahmadsubhan)

“Belum pernah aku berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada jiwaku sendiri, yang kadang-kadang membantu aku, dan kadang-kadang menentangku .”

 Imam Al-Ghazali

(via yasirmukhtar)

(via octobliviate)

“Mungkin kita dapat berulang-ulang kali jatuh cinta. Tapi, pada akhirnya hanya ada satu tempat kita membangun cinta.”

Harapan

Hari ini adalah hari ketiga menjelang keberangkatanku ke Bima, Nusa Tenggara Barat. Sebuah daerah di Pulau Sumbawa yang dikenal dengan padang savananya di selatan dan gunung Tambora di utaranya.

Desa Karumbu, Kecamatan Langgudu, di sebuah sekolah dasar bernama Soro Afu, di sanalah kelak aku akan mengajar selama satu tahun ke depan.

Bukan hanya mengajar ternyata. Bukan hanya tentang anak-anak di sana. Tapi, juga orang tua mereka yang sebagian besarnya bertani di ladang. Juga tentang sekolah dengan segala tantangannya. Juga tentang masyarakat setempat dengan segala kesederhanaannya. Juga tentang banyak hal-hal tak terduga lainnya.

Ada misi yang harus dilaksanakan. Tentang sebuah keberlanjutan akan kemandirian. Tentang sebuah harapan akan perubahan. Tentang sebuah jejaring pemimpin masa depan.

Misi ini juga adalah tentang kepercayaan. Bahwa nantinya mungkin aku datang seorang diri di sana tanpa ada supervisi. Lalu aku harus menuntaskan janji dengan sepenuh hati.

Satu kunci yang tak boleh aku lupa untuk membawanya, yaitu kunci ketulusan hati. Memberi yang terbaik yang dimiliki.

Jalan di depan tak akan mudah. Tapi bukankah itu yang akan buatmu jadi kuat?
Jalan di depan mungkin akan terasa sepi.
Tapi bukankah itu agar buat kamu memiliki saudara baru sepanjang perjalanan?

***

Jakarta, 12 Juni 2014

Maka bersyukurlah kamu. Karena dengan harapan, ia buatmu terus mendekatkan diri pada Tuhan.

Doa

Aku masih ingat benar salah satu moto yang juga jadi doaku pada Tuhan.

Meet new people, visit new places, learn new things.

Pertemukan aku dengan orang-orang baru dimana tak ada yang mengenalku sebelumnya, sampaikan aku di tempat-tempat baru yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya, dan ajarkan aku ilmu-ilmu kehidupan baru yang belum aku pelajari sebelumnya.

Aku selalu membayangkan hal-hal tersebut di tiap-tiap hariku.

Dan, nyatanya Tuhan selalu menjawab manis doaku di setiap periode putaran waktu hidupku.

Termasuk kali ini. Tahun 2014, tahun dimana Ia pertemukan aku dengan keluarga besar Indonesia Mengajar. Tak ada satupun dari pengajar muda yang sudah aku kenal sebelumnya. Lagi-lagi semua baru. Tapi, kami dipertemukan dalam tujuan yang satu, kembali memberi untuk Indonesia dengan mengajar di pelosok negeri.

Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi. Empat tahun lalu, empat kata ini yang terus menghidupkan aku untuk terus mendekatkan mimpi itu.
Menciptakan pemimpin yang tidak hanya memiliki kompetensi global, tetapi juga memahami kearifan local—local grassroot understanding and global competence, nilai yang menginspirasi aku selama menjalani masa-masa perkuliahan.
Ya, menjadi pengajar muda Indonesia Mengajar adalah sebuah impian untuk berbakti dan mengabdi pada negeri.

Menghidupkan terus impian. Karena impian yang hidup akan menjelma menjadi hidup yang menyala. Semoga Allah menguatkan :”“)

***

Depok, 15 April 2014

*yang sedang merindukan kata-kata dan menyadari bahwa sudah begitu lama tidak berinteraksi dengan kata dalam tulisan. Dan rasanya begitu asing. Manusia ini begitu mudahnya untuk lupa.

Sudah lama tak berucap lewat kata. Apa kabar? Tanyaku pada diri sendiri.

Di atas kasur empuk, ditemani suara lantunan alquran, yang diputar oleh teman dibawah kasurku yang masih harus berkutat dengan tugas kuliahnya. Aku yang sambil sesekali membuka jendela, melihat apakah benar di luar bulan sedang merona bercahaya. Ah, tapi sayang tak terlihat dari sini. Aku, yang sudah hampir jam membaringkan diri di atas kasur, tapi lantas tak bisa juga tidur. Aku, yang pikirannya sedang menjelajah ke beberapa hari dan bulan kedepan, yang menyata bahwa waktuku tinggal sebentar lagi di sini, sebentar lagi bersama mereka.

Sambil membaca kembali kisah-kisah pengajar muda, memutar kembali memori mereka tiga tahun silam, membayangkan mereka di pelosok tanpa listrik yang menerangiku seperti malam ini, tanpa kasur yang seempuk kasurku hari ini, tanpa sinyal penuh dan tuts2 smartphone tempat aku menuliskan pikiranku ini. Kemudian, itu nanti yang aku pun akan jalani di beberapa bulan ke depan, satu tahun ke depan. Aku tersenyum.


Membaca kembali kisah mereka membuat aku semakin yakin, membuat aku semakin bersiap. Bahwa apa-apa yang aku jalani tiap detiknya harus jadi berarti.

:’)

***

Depok, 15 April 2014
*Menjelang lima hari keberangkatan training pengajar muda angkatan viii. Ada yang rasa berbeda, rasa yang belum pernah dirasa sebelumnya*